Artikel ini merupakan penulisan ulang dari aslinya di blog saya yang lama. Ada beberapa update berupa penambahan ataupun pengurangan di versi yang baru ini.
Nabi Ibrahim ﵇ adalah nabi yang dinyatakan sendiri oleh Allah ﷿ sebagai khalilullah (خلیل الله), yang berarti “Kesayangan Allah” atau “Sahabat Allah”1. Beliau juga adalah bapaknya para nabi, karena mayoritas nabi/rasul yang diutus berikutnya adalah anak keturunan beliau. Teguhnya keimanan beliau kepada Tuhan yang Satu, Allah ﷿, telah tampak sejak masih berusia muda dan terus konsisten hingga masa tuanya.
Berhala dan Kebodohan
Sebagian sejarawan meyakini nabi Ibrahim ﵇ hidup di jaman kerajaan penting di kawasan Mesopotamia. Ada sumber yang menyatakan beliau hidup di kota Ur, di kerajaan Chaldea, yang sekarang merupakan bagian dari negara Iraq. Jika ditilik sejarah kerajaan-kerajaan di Mesopotamia, memang jelas bahwa bangsa-bangsa di sana menyembah berhala. Berhalanya bisa berupa raja mereka yang dianggap sangat hebat, atau wujud-wujud lain yang ada ceritanya. Misalnya dewa Marduk yang telinganya dibuat besar dengan makna dewa tersebut merupakan dewa bijaksana.
Namun demikian, di dalam Al Quran tidak disebutkan di negeri apa Ibrahim ﵇ hidup. Juga tidak disebutkan nama raja yang berkuasa2. Kita hanya tahu ayah beliau adalah seorang pemahat patung berhala yang bernama Azar3. Sekalipun lahir dan besar di lingkungan para penyembah berhala, Ibrahim ﵇ sangat kritis terhadap penyembahan berhala yang menyebabkan beliau sering bermasalah dengan kaumnya dan juga ayahnya sendiri.
Ketika masih kecil, konon beliau diminta untuk menjual berhala yang dipahat ayahnya. Oleh Ibrahim kecil, dalam promosi penjualan berhala itu ia berseru seperti ini: “Siapa yang mau beli berhala? Berhala ini tak akan dapat menyakitimu. Bahkan ia takkan bisa melakukan apa-apa kepadamu. Ayo, siapa yang mau beli berhala?”4. Ya, dalam promosi itu diselipkan sebuah pesan tersembunyi bahwa menyembah berhala adalah suatu bentuk kebodohan 😂
Ada juga kisah lain yang diceritakan langsung dalam Al Quran5. Suatu hari, Ibrahim ﵇ bertengkar dengan beberapa orang di negerinya tentang penyembahan berhala, dan beliau mengancam untuk menyusup ke sebuah kuil untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Ancaman itu beliau lakukan, tapi sebuah berhala besar sengaja dibiarkan.
Ketika masyarakat negeri itu melihat semua berhala di kuil hancur kecuali satu, mereka bertanya pada Ibrahim ﵇ siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu. Beliau menyuruh mereka bertanya saja pada berhala besar yang masih utuh. Kan berhala itu tuhan mereka.
Tentu saja masyarakat ini jadi kesal, karena bagaimana mungkin mereka bisa bertanya pada patung. Maka, langsung di-ulti (meminjam istilah anak jaman sekarang) oleh nabi Ibrahim ﵇: jika berhala itu bahkan bicara pun tidak bisa, menolong dirinya sendiri pun tidak bisa, dan sudah barang tentu tidak bisa memberi manfaat ataupun kerugian pada manusia, terus kenapa disembah?
Demikian cara nabi Ibrahim ﵇ menunjukkan pada umatnya betapa bodohnya penyembahan berhala.
Logika Tauhid
Bagi nabi Ibrahim ﵇, Tuhan hendaknya berupa sesuatu yang bisa diterima oleh logika. Memilih agama yang diyakini tidak mungkin dilakukan dengan memperturutkan kebodohan. Agama harus bisa masuk ke akal pikiran.
Maka, ketika suatu malam ia merenung dan melihat bintang-bintang, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan.
Ketika ia melihat Bulan menyinari gelapnya malam, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan.
Ketika melihat Matahari yang besar perkasa, kembali ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan.
Semuanya unik dan ajaib. Semua tampak berguna, memberikan keindahan di malam hari dan penerangan di siang hari. Namun, pada akhirnya terbantahkan sendiri melalui logika yang digunakannya: bagaimana mungkin tuhan muncul dan kemudian menghilang? Oh, sungguh ia tidak akan menyembah sesuatu yang bisa menghilang. Matahari, bulan dan bintang itu semuanya tenggelam, menghilang. Sementara baginya Tuhan itu haruslah selalu hadir6.
Demikianlah Allah ﷿ memberikan petunjuk-Nya kepada nabi Ibrahim ﵇, dan beliau kemudian berlepas diri dari mempersekutukan-Nya.
Haji dan Qurban
Di setiap momen Idul Adha, kisah tentang Ibrahim ﵇ sudah pasti selalu terdengar. Penggalan kisah hidupnya memang didokumentasikan pada dua ritual ibadah yang dilakukan di momen hari raya terbesar umat Islam, Idul Adha, yakni Haji dan Qurban.
Pada ritual haji, dilukiskan bagaimana Hajar, istri Ibrahim ﵇, berlari-lari mencari air di tengah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwa agar putranya, Ismail, yang kehausan dapat segera diberi minum. Ritual itu dinamakan sa’i (السعي). Pada ritual haji itu juga dilukiskan bagaimana Hajar mengusir Iblis yang berusaha menghalangi Ibrahim ﵇ menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail. Hajar melempari Iblis dengan bebatuan, dan sekarang ritual melempar batu dinamakan rami al jamarat (رمي الجمرات).
Pada ritual qurban, digambarkan peristiwa saat Ibrahim ﵇ mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Perintah itu disampaikan melalui mimpi, dan Ismail dengan teguh meyakinkan ayahnya bahwa itu adalah perintah Allah ﷿.
Mimpi itu adalah suatu bentuk ujian keimanan. Dan pada akhirnya, ketika hendak disembelih, Allah ﷿ mengganti Ismail dengan seekor domba besar.
Penutup
Saya sangat menyukai kisah-kisah nabi Ibrahim ﵇, terutama kisah pencariannya pada hakikat Tuhan. Betapa beliau hanya mau beriman dan kemudian berserah diri sepenuhnya hanya kepada sesuatu yang benar-benar layak. Bukan menyembah pada patung-patung yang kisah ketuhanannya direka-reka sendiri oleh manusia. Bukan pula pada benda-benda yang sekedar tampak besar dan ajaib, namun bisa begitu saja lenyap dan tak memberikan manfaat apa-apa.
Dan dengan pemahaman tauhidnya yang sebegitu kuat, nabi Ibrahim pun sebetulnya menyadari betapa ia tetap memerlukan Allah ﷿ untuk menenangkan hatinya, seperti yang tercermin pada Al Quran surat Al Baqarah ayat 260.
Di antara hikmah yang saya ambil dari kisah-kisah ini adalah: gunakanlah privilege umat manusia berupa akal dalam beragama. Akal memperkuat pemahaman kita akan tauhid, dan akal akan menjadi kita dari melakukan ataupun meyakini hal-hal yang keliru. Hanya orang kurang akal sajalah yang masih melakukan tindakan menyekutukan Allah ﷿, apalagi setelah kita mendapatkan petunjuk berupa agama Islam.
Bukankah dalam Al Quran juga sering ditemukan Allah ﷿ berkata, “Tidakkah engkau (manusia) berpikir?”
Selamat Idul Adha.
Catatan Kaki
Lihat Al Quran surat An-Nisa ayat 125↩︎
Dalam tradisi Islam, raja yang berkuasa di masa Ibrahim ﵇ adalah raja Namrudz, yang kemungkinan dipengaruhi tradisi Yahudi dan Nasrani yang menuliskan nama rajanya Nimrod. Walau demikian, bukti historis atas raja dengan nama Nimrod atau Namrudz sejauh ini tidak ada.↩︎
Dituliskan di Al Quran surat Al An’am ayat 74↩︎
Tidak ada sumber di Al Quran mengenai kisah ini, namun sepertinya ini cerita yang berkembang di kalangan sufi.↩︎
lihat surat Al-Anbiya 51 – 70↩︎
Al Quran surat Al An’am ayat 75 – 78↩︎


.jpg)

